Rasa
cemburu kerap datang tanpa sebab yang jelas. Meski yakin pasangan tak
akan selingkuh, kadang rasa gelisah muncul begitu saja seolah 'si dia'
akan berpaling untuk selamanya. Itu artinya, sesuatu sedang terjadi di
otak.
Bukan cuma orang dewasa dan berpasangan yang bisa mengalami rasa cemburu. Anak kecil, bayi, dan bahkan anjing pun pernah mengalami perasaan serupa pada satu titik dalam hidupnya.
Berbeda dengan rasa iri, cemburu tidak didasari oleh keinginan untuk
memiliki sesuatu yang memang bukan kepunyaannya. Cemburu lebih didasari
oleh naluri untuk mempertahankan sesuatu yang sudah dimiliki, atau
setidaknya dirasa sudah jadi miliknya.
Tidak ada bagian khusus
di otak yang mengatur rasa cemburu, seperti halnya pusat rasa puas dan
pusat ingatan. Namun begitu, para ilmuwan meyakini bagian otak yang
berhubungan dengan rasa cemburu adalah left-frontal-cortex. Bagian yang
sama juga mengatur beberapa jenis emosi, salah satunya adalah rasa malu.
Hal lain yang turut mempengaruhi rasa cemburu adalah sistem pelepasan
dopamin, alias hormon rasa senang. Saat muncul rasa cemburu, para
ilmuwan meyakini ada perubahan pada sistem ini.
