Pages

Kamis, 15 Maret 2012

Otak Lebih Sulit Ingat Bacaan Buku Digital Daripada Buku Cetak

Buku digital atau e-book adalah alternatif buku teks yang lebih baik dan lebih canggih. E-book mudah diperbanyak dan tersedia dalam banyak format sehingga memungkinkan pembacanya berinteraksi dengan banyak materi, kuis, multimedia dan suplemen lain yang memperkuat pelajaran.

Sayangnya, beberapa penelitian menunjukkan bahwa membaca materi dari buku cetak lebih mudah diingat untuk jangka panjang dibanding membaca lewat layar. Kate Garland, dosen psikologi di University of Leicester di Inggris menemukan bahwa tidak ada perbedaan dalam prestasi siswa ketika materi yang sama disajikan dalam bentuk digital maupun cetak.


Namun, ia menemukan ada sedikit perbedaan jangka panjang yang penting. Dalam sebuah penelitian, ia meminta mahasiswa psikologi membaca materi ilmu ekonomi yang belum pernah dikuasai. Ia menemukan ada 2 perbedaan yang muncul. Pertama, diperlukan mahasiswa lebih banyak mengulang-ulang membaca lewat komputer untuk memahami informasi yang sama. Kedua, pembaca buku lebih mencerna materi secara lengkap.

Garland menjelaskan bahwa ketika mengingat sesuatu, ingatan muncul tanpa harus berusaha mengingat konteks di mana pernah mempelajari sesuatu atau mencari petunjuk untuk menemukan jawaban. Menjadi tahu saja sudah cukup karena dapat mengingat fakta-fakta penting lebih cepat dan mudah.

"Apa yang kami temukan adalah bahwa orang-orang yang membaca dari kertas lebih cepat merasa tahu atas informasi yang dibaca. Ketika membaca lewat komputer, dibutuhkan waktu yang lebih lama dan harus membaca berulang-ulang agar pembaca dapat menjadi tahu," kata Garland seperti dilansir Time Healthland, Kamis (15/3/2012).

Konteks dan bentuk bacaan nampaknya juga berperan penting dalam proses mengingat. Semakin mudah konteks dan bentuk bacaannya, maka bahan bacaan makin mudah diingat. Faktor-faktor yang tampaknya tidak relevan juga dapat membantu memperkuat ingatan. Contohnya seperti materi bacaan di bagian atas atau kanan halaman, atau mungkin terletak di dekat gambar.

Penataan ruang dalam buku nampaknya sangat penting karena proses evolusi telah membentuk pikiran manusia agar mudah mengingat isyarat lokasi sehingga orang dapat menemukan jalan. Sejak zaman dulu, orang menggunakan trik yang disebut 'metode lokus' untuk mengingat hal-hal yang berhubungan dengan tempat-tempat yang diketahui, seperti bagaimana keadaan kamar di rumah semasa kecil.

E-book kurang memiliki penanda tempat dibandingkan buku cetak, terutama halaman yang berurutan ke bawah tanpa ada nomor halaman. Artinya, halaman e-book bisa dibilang tak terbatas dan dapat memusingkan. Buku cetak memberikan pembacanya titik referensi yang nyata dan membuat otak mudah mengingat sampai sejauh mana materi yang telah dibaca.

"Saya juga berpikir bahwa orang lebih sedikit mengingat materi-materi dari e-book. Ini bukan sesuatu yang secara resmi terukur, tetapi hanya didasarkan pada penelitian yang kami lakukan dengan cara melihat perilaku membaca lewat tablet, buku dan komputer," kata Jakob Nielsen, pakar web ternama dan kepala Nielsen Norman Group.

Nielsen juga menjelaskan bahwa penelitian menunjukkan makin kecil layar yang digunakan untuk membaca, maka bahan bacaan yang dibaca terasa kurang berkesan. Semakin besar layar yang digunakan, makin banyak hal yang dapat diingat. Contoh paling nyata adalah membaca buku lewat ponsel.

"Ingatan jangka pendek manusia sangat lemah dan mudah berubah. Itu sebabnya melirik satu atau dua halaman dan melihat semua halaman secara bersamaan memiliki manfaat besar. Meskipun mata hanya dapat melihat satu hal pada suatu waktu, menggerakkan mata dengan cepat jauh lebih praktis. Melihat halaman dan menghubungkan berbagai materi membuat orang lebih mudah memahami," kata Nielsen.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...